KUBURAN KATA
Nun..…,
di gubuk reot,
di kolong jembatan dan
di dalam rumah-rumah kardus
Kulihat kuburan kata yang telah disingkirkan
diasingkan sejauh mata memandang
Kulihat kata-kata yang miskin dipeloroti
hingga tak sebenangpun yang melekat ditubuhnya
Kulihat kata-kata yang lemah telah ditindas
hingga keluar isi benak di kepalanya
Kulihat kata-kata yang teraniaya,
dikuliti sampai ke tulang
hingga darahnya bisa memandikan berjuta mereka yang lalim
Kulihat kata yang dipasung pada setiap tenggorokan dan
ditelantarkan saja hingga ajalnya tiba
kulihat nisan mereka berserakan disegenap penjuru pertiwi,
tak terawat tak bernama.
Kusaksikan…
Kata-kata telah dibunuh senjata,
Kata-kata telah dibunuh kekuasaan,
Kata-kata telah dibunuh dengan seribu satu cara dari penguasa
Sampai kapan kata akan bersanding dengan ketakutan
Sampai kapan kata akan dinaungi awan kedzaliman mereka!
Sampai kapan kata akan selalu dibungkus dengan selonsong peluru
Sampai kapan kata akan selalu ditantang oleh dinginnya jeruji penjara
Dan sampai kapankah pertanyaanku ini tidak lagi berwujud kata-kata
Pekanbaru, 28 April 2010
Syukur
Tetesan keringat merah
Bercampur debu hitam hidup mu
Persembahan maha tanpa jasalah untuk ku
Gaung doa di penghujung sujud mu
Mengantarkan budak kecil nan polos
Merengkuh samudera tanpa batas
dan
Tanah liat hitam telah berwujud
Telah kuasa menggapai asa
Jalan ku masih panjang dan liku
Berdebu dan batu
Menanjak dan menukik
Penuh ranting dan kayu
Berlumpur dan berduri
Terimalah tunduk dan simpuh ku
Di hamparan luas kuasa Mu
Dan sujud syukur ku
Akan timbunan nikmat Mu
Dua Puluh
Dua puluh
Dua puluh dua puluh
Dua puluh dua puluh dua puluh
Dua puluh empat puluh enam puluh
Dua puluh empat puluh
Dua puluh
Dua puluh tahun telah berlalu
Selama itu aku hidup
Mendengar, bernafas, bergerak, menangis, minum susu ibuku, melihat, tersenyum, tertawa, berjalan, berlari, dan jatuh
Apa balas ku atas semua itu
Untuk Ibuku
Untuk Ayahku
Untuk Tuhanku
Bahkan untukku belum apa-apa
Hampir separuh usiaku
Belum juga aku bisa
Atau nanti
Telah ku gunakan seluruh usiaku
Takkan juga bisa
Apakah aku menunggu
Menunggu
Menunggu
Dan menunggu
Sampai malaikatpun bertamu
Pekanbaru.
Rasa Terkikis
Wahai engaku bintang malamku
Mungkin engkau tak bisa kutatap lagi
Namun cayamu masih hangat dan terang dipikiranku
Wahai engkau bunga pilihanku
Mungkin engkau tak akan ku jumpai lagi
Namun harummu masih lekat di hatiku
Engkau dewi yang pernah datang dan
Mendendangkan lagu kerinduan untukku
Biarkanlah bayang-bayangmu pupus dibawa angin malam ke laut jauh
Biarkanlah semua rasa terkikis oleh pisau waktu-NYA
Kuhanya ingin rasa ini datang satu kali saja untukmu.
Pasir Pangaraian.
Laila
Yang mengendap-endap dalam kesesatan
Bersanding dengannya merupakan kebinasaan
Kegelapan pada hatinya
Kekeruhan pada pemahamannya
Keburaman pada akalnya
Yang menjadikan hawa nafsu Tuhan
dan sesembah baginya
Syahwat adalah pimpinannya
Kebodohan sopirnya
Kelalaian kendaraannya
Binasalah kiblatnya.
Di Penantian
Aku menanti
Dengan separuh usia ku
Jika nanti ku temukan ku ukir indah mu dengan kata-kata sakti
Setiap jengkal hati mu akan ku lukis dengan tinta penuh cinta
Hingga setiap saat kau akan ku buat tersenyum
Seonggok Karya Sastra
Gauli aku
Karna aku tak akan membuang-buang waktumu
Bermainlah denganku
Karena aku bukan sekedar iseng
Peluklah aku
Karna aku butuh perhatian khusus
Keasyikanku takkan membosankanmu
Tapi aku bukan wajib untukmu
Janjiku kesenangan untukmu
Beri
Beri mereka karya sastra…!!
Biar mereka mengembara dan berekreasi berbagai dunia
Tanpa habiskan harta rakyat
Beri mereka karya sastra…!!
Untuk hidupkan emosi yang telah lama mati
Untuk rasa yang telah padam
Untuk pembasuh jiwa yang berdebu
Air penyejuklah baginya
Yang semakin gersang atas semua rasa kemanusiaan
Beri mereka karya sastra…!!
Biar mereka semakin kaya
Biar mereka sedikit intelek
Beri mereka karya sastra…!!
Supaya mereka mau belajar
Dan mendapat tunjuk ajar.
