SEMU
Jalan kuning itu masih menyisakan debu, terbang tinggi dibawa angin dan hinggap di dedaunan sepanjang jalan, berkumpul di pagar-pagar nan lusuh dan bersemayam di atap-atap rumah orang Melayu. Jalan desa ini memang belum tersentuh oleh hitamnya aspal. Selang beberapa waktu, debu menguning di angkasa. Pemandangan ini sudah menjadi pertunjukan yang biasa bagi warga, itu selalu terlihat jika ada kendaraan yang melintas di badan jalan. Sebuah mobil putih berhenti dan menurunkan salah satu penumpangnya, tanpak seorang anak muda meloncat keluar dari mobil. Tubuhnya yang kecil dan ceking seakan tak mampu menahan beban yang ia bawa, tas ransel dipunggung dan satu lagi ia jinjing. Wajah tirus penuh lelah berambut panjang yang hanya diikat dengan selembar karet, celana jeans putih terdapat sobekan persis bekas terkaman harimau mulai tanpak berubah warna menjadi kecoklatan. Anak muda ini juga tampak berdebu.
“Mak…!! Bang Antan pulang!”
Seorang gadis kecil dengan sapu lidi di tangan mencak-mencak memanggil orang yang ia sebut dengan panggilan emak. Ia tengah berada di halaman sebuah rumah kecil bertumbuhan rambutan dan jambu air, di dekatnya dedaunan kering berserakan. Tanpak tergopoh-gopoh dari dalam rumah perempuan separuh baya, dengan susah payah membawa tubuhnya yang agak berisi dan tanpak mulai renta.
“Ha, akhirnya pulang juga kau Tan…!?” sambil membetulkan letak lipatan kain sarung di perutnya. Mak Robiah memberikan kata ucapan selamat datang.
Antan mendekati emak, kerepotan ia menurunkan barang-barang bawaannya. Setelah itu segera ia raih tangan yang tampak mulai ada garis-garis keriput itu, lalu menciumnya.
”Mak kira kau tak ingat lagi dengan kampung kita ni.”
”Ah mak ni, janganlah bicara macam tu” Antan memberikan senyumnya kepada mak, mungkin yang ia harapkan adalah sebuah pujian. Bukan kata selamat datang seperti tadi.
“Sebab orang-orang pada dah balek semua Tan, tinggal kau seoranglah” mak Robiah menimpali disusul dengan dahinya yang tampak mengkerut.
”Mak, Antan ada sedikit kerjaan di sana, makanya agak telat pulang.” dari belakang, terlihat gadis kecil tadi medekati Antan.
”Gitulah mak, abang awak ni dah jadi orang sibuk sekarang.” Gadis itu ikut berbicara.
“Hei Nor, apa kabar adek abang sekarang?? Lama tidak bertemu makin cantik saja abang tengok, pastilah si Ujang teman kecil kau tu dah naksir pulak” Antan mencoba menggoda adiknya, mungkin sebuah kata pengantar yang mungkin hanya Antan yang punya. Mereka hanya dua bersaudara. Ayah mereka sudah lama meninggal, sejak Antan tamat SD dan Norlela waktu itu sangat suka menyusuri setiap dinding yang ada dalam rumah, Nor masih belajar berjalan. Itu adalah saat-saat paling sulit dalam hidup Antan, mereka ditinggal pergi oleh sang ayah saat kehidupan ekonomi sangat susah. Tapi berkat ketekunan dan kerja keras, Antan bisa melanjutkan sekolahnya. Sekarang ia sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di kotanya.
“Beginilah bang, Nor capek nyapu halaman terus, belum lagi janji mak yang tak pernah ditepati. Tengok tas Nor dah lebih sepuluh kali jahit dan sudah mati warna dah…” bibir Nor seketika manyun. Antan tersenyum mendengar celotehan dara kecilnya itu. “Nor tidak bolehlah begitu, kasian mak dah nampak tua. Siapa lagi yang bantu bersih-bersih jika tidak Nor. Nanti jika abang ada rezeki, biar abang saja yang beli yah…!?” lalu ia usap dengan lembut kepala sang adik.
“Janji..!?” Nor menatap lekat, sambil jari kelingkingnya membuat setengah lingkaran.
”Abang janji…!” Antan langsung menggaet jari kelingking kecil Nor, juga dengan jari kelingkingnya. Nor tanpak puas dan terhibur dengan apa yang barusan diucapkan abangnya.
”Ya sudah, kau pergilah mandi sana...! Kumuh kali mak tengok anak mak satu ni, biar tas-tas kau mak saja yang bawa.” mak robiah masuk ke tengah-tengah pembicaraan mereka. Sambil menenteng tas-tas Antan masuk ke rumah.
Senja mulai merangkak menuju gelap, suara jangkrik riuh rendah di belakang rumah mungil itu. Cahaya remang-remang dari lampu togok menari-nari di dalam rumah, sesekali cahayanya terlontar ke luar lewat jendela. Kampung itu terlihat sepi dan kelam, terlempar jauh dari hiruk pikuknya kota Pekanbaru bertuah. Hanya satu dua anak-anak kampung yang kuliah di ibu kota. Dorongan ekonomilah yang berkehendak dan berkuasa memaksa mereka, selebihnya ketidakmengertian orang tua akan pentingnya pendidikan juga ambil andil di sana. Antan, Emak dan Nor baru selesai menyantap hidangan makan malam mereka.
”Nak kemana kau malam ni Tan?” mak Robiah membuka kata.
”Rencananya Antan mau ke tempat Uan dan Atuk mak”
“Baguslah, pergilah kau tengok. Pasti mereka sudah rindu pada kau Tan, janganlah kau pergi main dan ngumpul sama teman-teman kau dulu. Kau kan masih capek, malam besoknyalah kalau kau mau”
”Iyalah mak, nanti sehabis Isya Antan pergi” Antan menjawab sambil membenahi piring-piring dan di bawa ke sumur untuk di cuci oleh Nor. Di sumur belakang rumah Nor sudah asyik berkutat dengan piring-piring kotornya.
“Bang, nanti jadi ke rumah Uan?” Nor bertanya, sementara tangannya sibuk membasuh piring-piring kotor. Sambil membantu menimba air Antan menjawab. “iya, nanti sehabis isya. Kenapa, Nor mau ikut?”
”Mau lah bang, nanti kita sama-sama pergi yah!?” piring kotor sudah dicuci semua, nor tinggal membilasnya.
“Tapi nanti kalau Nor pergi siapa teman emak di rumah nor?”
”Emak diajak saja bang, biar di tempat uan jadi rame. Iyakan bang?”
Antan merenung sejenak, “ya sudah, kau siapkanlah cepat cucian kotor tu, siap itu kita shalat berjamaah ya!? Selesai shalat baru kita pergi.”
Rumah itu kelihatan lumayan besar dibanding rumah warga lainnya, tanpak di dalamnya banyak orang-orang lagi asyik berbincang-bincang, tertawa dan ada juga tangisan dari anak-anak. Antan bersama adik dan emaknya datang ke rumah uan dan di situ sudah ramai, maklum kalau di kampung tempat uan selalu ramai. Sebab di sana tempat berkumpulnya sanak saudara, mulai dari cicit, cucu, dan anak-anaknya uan dan atuk semua berkumpul di sana .
“Assalamualaikum……!” Antan dan Nor hampir bersamaan mengucapkan salam.
“Waalaikumussalam...” hampir serempak terdengar seisi rumah menyahut salam dari luar. Obrolan, dan tawa bahkan tangisan terhenti seketika, mereka menoleh ke arah pintu dimana Antan, Nor dan emak sudah berada di depan pintu. Mereka terdiam, Antan memberi sedekah kepada semua. Sebuah senyuman. Antan langsung menyalami, mulai dari atuk, paman Itam, bibi dan tetangga-tetangga yang lagi nonton televisi di ruang tengah. Sampai giliran uan. Uan duduk di atas sajadahnya, uan selalu telihat di sana. Saat Antan mau merunduk dan memberikan salam serta menciuman tangan yang dipenuhi keriput itu, uan langsung memeluk dan mencium kedua pipi antan. Sepertinya uan sudah sangat rindu dengan cucunya yang satu ini. “kapan kau pulang Tan? Orang-orang sudah pada pulang. Uan sudah rindu kepingin melihat kau Tan.” maklum, Antan sudah memasuki bulan ke enam tidak pulang kampung.
“Tadi sore uan, pakek travel. Uan apa kabar, sehatkan?”
“Beginilah Tan, namanya juga sudah tua. Selalu ada penyakit, tapi untuk ke sumur uan sanggup” tidak lebih satu jam mereka berbincang-bincang melepas rindu di tempat uan. Emak, Antan dan Nor pun berpamitan untuk pulang. Sebelum berpamitan uan berpesan kepada antan, “Potonglah rambut kau Tan, risau uan melihatnya. Kau kan sudah sekolah di luar…”
“Kuliah uan.” Antan memotong pembicaraan.
“Iya, apalah namanya itu. Kalau kayak ini kau tak ubahnya macam preman-preman di kampung kita ni saja dan sekarang kau tak tampan lagi uan tengok.” uan memberikan protes dan sedikit pujian.
Ini sudah hari ke enam antan berada di kampung. Ia berencana libur satu minggu saja, karena sebenarnya jatah libur ada dua minggu. Tapi ada sedikit sisa pekerjaan yang mau ia kerjakan di kampus. Pada libur semester ini semua anak-anak yang kuliah maupun sekolah di kota pasti menggunakan momen ini untuk pulang kampung.
Sehabis shubuh, kampung sudah agak terlihat terang, dinginnya alam pagi perkampungan menyusup ke atap-atap dan masuk sampai ke dalam pori-pori seluruh warga perkampungan. Saat itu Antan lagi sedap meringkuk di dalam sarungnya. Sesaat terdengar suara emak memanggil.
”Bangunlah Tan, shalat. Nanti paman Sawir mu juga mau ke rumah kita. Apa katanya nanti kalau masih dilihatnya kau masih malas-malasan di tempat tidur, bisa habis nanti kau Tan dikata-katainnya.”
”Iya mak.” Antan beranjak bangun dari tempat tidur. Badannya masih terasa pegal-pegal karena berlama-lama duduk di dalam mobil. Ia langsung bergegas ke sumur, mandi, shalat dan langsung menyantap sarapan yang telah disediakan emak pagi tadi di dapur. Tak lama terdengar suara motor memasuki pekarangan rumah.
“Paman Sawir datang…” melengking suara Nor dari luar, rupanya ia sedang menyiram bunga di depan rumah. Antan cepat-cepat menyudahi sarapannya. Emak sudah bilang, bahwa paman Sawir mau datang untuk memberikan pinjaman uang kepada emak pagi ini, nanti uang itu mau di gunakan untuk membeli bibit sawit. Mau bikin kebun ceritanya.
“Kapan kau pulang ke pekan lagi Tan?” paman Sawir memberikan pertanyaan, ia masih berada di luar.
”Rencananya besok pagi paman, masuklah dulu paman. Emak ada di belakang” tiba-tiba emak muncul dari dalam rumah. Kemudian paman Sawir masuk, emak dan paman bercerita panjang lebar mengenai cara membuka kebun sawit. Sesekali Antan menyahuti dan menjawab pertanyaan-pertanyaan paman Sawir maupun emak.
”Ha, beginilah susah orang mencari duit di kampung kita ini Tan, jika tidak punya kebun, alamat akan hidup miskin kita selamanya. Kau kuliahlah baik-baik di sana. Jangan main-main saja, pikirkan emak kau di kampung. Hidup serba susah sekarang, bahan-bahan pokok naik terus. Sementara pendapatan kita segitu-gitu saja.” paman Sawir memberikan pandangan.
”Iya itu, kau dengarlah tutur paman kau ni Tan. Kalau emak sudah jemu rasanya menasehati kau. Ini semua supaya kau di sana nanti betul-betul kuliahnya.” emak menambah.
”Paman dengar isu dari orang-orang kampung kita kau sering ngumpul-ngumpul di kedai Rohim kalau malam hari, apa kerja kau tu Tan? Jangan pula kau ikut-ikutan menggoda pelayannya Rohim tu. Kaukan sudah tidak sama lagi dengan mereka. Mereka sudah tidak bersekolah lagi”
”Ah cuma ngumpul-ngumpul sama teman-teman lama saja paman, sudah lama kami tidak bersua. Sambil bercerita tentang kisah masa lalu kami.”
”Janganlah kau turuti mereka itu, nanti kau ikut-ikutan juga minum-minuman keras. Mabuk. Nanti mau ditarok dimana muka emak kau tu? Ia sudah mempertaruhkan kau kuliah agar kau menjadi orang kelak. Bukan jadi preman.”
”Iya paman.” Antan hanya bisa mengiyakan, dalam hati ia berguman. ”Bukan malam saja, siang juga iya paman. Nanti emak dan paman juga akan tau.”
“Tengok rambut kau tu, macam rambut perempuan saja lagi. Celana pakek dikoyakkan pulak dekat lutunya. Ternyata paman belum puas berorasi. Sekali lagi Antan hanya bisa terdiam mendapat wejangan hangat pagi ini.
”Coba kau tengok si Udin, semua orang memuji dia di kampung kita ni. Pakaiannya selalu rapi, dan tidak pernah ikut-ikutan ngumpul di kedai-kedai kopi kampung ni.” emak juga ikut menambahi.
”Waduh, bakalan hazab ni diomelin oleh dua orang sekaligus.” Antan bicara dalam hati.
“Mak janganlah ikut-ikutan berpandangan seperti itu kepada Antan, Antan ni anak mak. Siapa lagi yang bela Antan selain mak. Bagi Antan penampilan itu bukan nomor satu, yang terpenting itu isi hati kita mak. Mak..., belum tentulah penampilan itu akan mencerminkan yang baik-baik saja ”
”Ah kamu ni Tan, saat dikasih tau selalu merasa pandai sendiri. Sekarang kau sudah pandai pulak berkilah seperti orang-orang pandai berdebat di TV-TV tu.” sekali lagi Antan hanya bisa terdiam, menerima semua wejangan-wejangan hangat pagi itu. Sampai emak bosan dan paman pamitan untuk pulang.
Hari kepulangan Antan telah tiba, mobil sudah di pesan. Pagi ini ia akan berangkat ke Pekanbaru. Tetapi ada sesuatu yang berat dalam diri Antan, entah kenapa terasa ada yang janggal dengan kepulangannya kali ini. Di dalam mobil Antan banyak bermenung, kata-kata emak, paman Sawir dan juga uan terus bermaian-main di pikirannya.
“Ah, mengapa orang kampung ini selalu berpandangan seperti itu, mereka tersihir hanya dengan penampilan luar saja. Suatu saat aku harus memberi tau mereka semua, akan ku buktikan bahwa penampilan atau fisik luar bukanlah segalanya.”
Waktu terus merangkak, berputar dan berjalan terus tanpa seorang pun yang bisa menghentikannya, Antan tetap kuliah dan selalu sibuk dengan pekerjaannya di kampus. Tidak terasa sudah habis tiga bulan berlalu, liburan telah menanti kembali. Kali ini bulan puasa menjadi lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya, begitu juga lebaran. Dari fakultas waktu libur hanya diberikan dua minggu, seminggu sebelum lebaran dan seminggu sesudahnya. Sudah banyak mahasiswa yang libur pulang kampung, tetapi Antan belum. Masih ada kerjaan yang harus diselesaikannya.
Di kampung mak Robiah cemas menunggu kedatangan Antan, kali ini penantiannya sangat beda, sudah hadir firasat lain selain kerinduan di hatinya. Di seantero kampung sudah tersiar cerita tentang si Udin, ia pulang sambil membawa seorang perempuan. Kabarnya Udin akan menikahi perempuan itu, dan ia tidak akan kuliah lagi. Itu semua akibat pergaulan yang tidak bisa ia batasi. Mak Robiah sangat takut akan hal itu, bahkan ia sampai tidak bisa memikirkan hal itu nantinya akan terjadi pula kepada anak laki satu-satunya itu. Sekarang musnahlah sudah puji-pujian orang-orang sekampung tentang kebaikan si Udin, berubah menjadi gunjingan dari mulut ke mulut. Tersiar dengan cepat, dari rumah ke rumah, di pasar dan di kedai-kedai kopi. Mak Robiah takut, si Udin saja yang sebelumnya terlihat baik bisa berubah menjadi seperti itu. Apalagi lagi anaknya Antan, yang penampilan sangat tidak meyakinkan bagi dia, maupun orang banyak. Rambut panjang bagaikan perempuan, ada lagi yang bilang rambut Antan itu seperi rambut anggau, yakni rambut hantu yang dipercayai orang di kampung itu. Celananya banyak bekas sobekan di sana-sini, belum lagi ia sering main di kedai-kedai kopi. ”Mungkin nanti bukan satu perempuan yang Antan bawa pulang, bisa-bisa ada tiga atau empat orang perempuan. Poligami, seperti yang diceritakan banyak orang. Atau bukan makhluk sejenis manusia yang ia bawa lagi.” Ah, mak Robiah sangat cemas dan khawatir akan Antan.
Tepat tiga hari lagi menjelang lebaran, belum ada lagi kabar Antan akan pulang ke kampung. Mak Robiah semakin cemas. ”Apa nanti anak ku tak akan pulang ya, apa yang dikerjakannya di sana? Anak-anak yang sekolah di luar sudah pada pulang semua, tetapi kenapa tidak dengan Antan?”
Malam sudah tanpak mengembangkan jubahnya, dari tadi sore gerimis tidak henti-hentinya. Di jalan yang gelap dan sepi itu tanpak terseok-seok sebuah motor, terlempar ke sana dan ke sini. Akibat curahan air hujan jalan menjadi sangat licin. Si pengendara motor mengerutu. ”Sialannn, habis dah motor baru ku. Bisa-bisa nanti tidak bisa dikenali orang ni.” ia mengendarai motornya dengan lamban dan sangat berhati-hati, takut-takut nanti ban motor tergelincir dan masuk ke dalam parit. Ngeri rasanya membayangkannya.
Suara takbir menggema silih berganti saling sahut-menyahut, hari kemenangan bagi umat islam yang beriman telah tiba. Di setiap rumah tanpak nampan-nampan kebahagian terpancar dari setiap wajah para penduduk. Rasa suka dan duka saling himpit menghimpit di kalbu mereka, ada rasa keindahan untuk menunggu esok pagi. Sementara mak Robiah sudah sangat cemas menunggu dalam gubuk kecilnya, ia tidak memikirkan lagi kue-mueh yang seharian suntuk dikerjakan dengan Nor. Ia tanpak gelisah, berdiri dekat jendela dan selalu memandang ke luar rumah. Nor tau kerisauan yang maknya rasakan, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga sangat mencemaskan abangnya.
”Sudahlah mak, jangan berdiri terus di situ. Nanti mak bisa masuk angin. Bang Antan jangan dirisaukan kali, jika tidak pulang tidak apa-apa, yang penting dia sehat saja di sana.” Nor mencoba menghibur hati mak.
Mak menoleh sebentar ke arah Nor, tak lama terdengar- samar-samar keluar kata-kata dari mulut mak Robiah. “Apa ia tidak punya uang ya buat ongkos pulang?” mak Robiah pun beranjak dari depan jendela, tetapi baru beberapa langkah terdengar suara motor memasuki halaman. Cahanya lampunya masuk hingga ke dalam rumah. Mak Robiah mengurungkan langkahnya untuk menjauh dari jendela, ia kembali mendekati dan memandang keluar. Matanya silau terkena cahaya lampu motor. Seseorang yang memakai jas hujan turun dari motor, ia membawa tas yang sangat gemuk-gemuk. Tetapi mak Robiah belum bisa mengenali orang tersebut, helmnya masih terpasang. “Siapakah gerangan orang ini?” dalam hati mak Robiah bertanya-tanya.
Setelah mematikan motor orang tersebut mengucapkan salam dengan lantangnya. “Assalamualaikummm…” sambil terus menenteng tas masuk ke dalam.
“Ya Allah, aku mengenali suara itu. Itu seperti suara anak ku, iya itu pasti suaranya si Antan.” saking terkejutnya mak Robiah lupa membalas salam. Hingga Nor melongok keluar dan membalas salam tersebut.
”Waalaikumussalam. Mak, bang Antan pulang.” Muka kecilnya sumringah meski tidak kelihatan dalam kegelapan malam.
Antan cepat-cepat masuk, di luar gerimis masih belum reda. Ia turunkan barang-barang bawaannya, namun baru tas-tas itu menyentuh lantai mak Robiah langsung menghamburkan diri memeluk Antan. Ia ciumi kening, pipi kanan dan kiri Antan. Terasa dingin. Kemudian mak Rodiah terdengar sesegukan, tidak terasa butir-butir bening kristal mengalir dari kelopak mata tuanya dan menganak sungai di pipi. Berkali-kali terdengar ia mengucapkan syukur, dan tak henti-hentinya ia memeluk tubuh kecil Antan. Antan heran, ia merasa bersalah. Mungkin ia telah membuat hati putihnya mak cemas, tak biasanya dia pulang sangat telat seperti ini.
”Mak, maafkan Antan. Mungkin Antan dah buat hati mak dan adek Nor cemas. Antan ada kerjaan yang dikasih sama dosen mak, jadi selama ini hasil dari bekerja Antan sisihkan dan sekarang Antan bisa membeli sepeda motor baru. Ini juga ada sedikit oleh-oleh buat mak dan Nor.” Antan membuka salah satu tas, ia keluarkan isinya. Ada bermacam-macam kue kering, tas cantik buat Nor, sarung, sajadah dan pakaian baru buat lebaran. Ia tanpak puas.
Mata mak Robiah masih sembab, tapi cahaya kebahagiaan telah tepancar di matanya. Hilang sudah garis-garis kecemasan di raut mukanya.
“Tan maafkan mak ya, selama ini mak telah salah menilai mu. Sekarang mak bangga pada mu Tan, mak sangat bangga.” sekali lagi mak Robiah memeluk, mencium dan mengusap-usap kepala Antan. Selama ini ia telah tertipu prasangkanya sendiri dan prasangka orang lain.
Malam semakin larut, takbir dan tasbih sesekali masih terdengar. Awan kebahagiaan sempurnalah sudah menaungi seisi rumah mungil itu. Suara nyanyian jangkrik dan kodok ikut menghantar Antan ke tempat peraduannya. ”Esok pagi akan aku buktikan, bahwa aku bukan seperti yang mereka pikirkan. Aku bukan pecundang! Besok mereka akan menuai sebuah pelajaran, bahwa penampilan bukan segala-galanya dan berhati-hati tidak akan terkecoh lagi dengan penampilan semu.”
¤¤¤
Uan : Nenek
Atuk : Kakek
NYANYIAN HUJAN
Awang terjengkang ke belakang hingga terbentur dinding, kali ini pukulan kedua dari Antan telak mengenai pipi kirinya. Rasa panas seketika ia rasakan mulai menjalar di seluruh wajah, matapun sedikit nanar dan berkunag-kunang. Awang mecoba bangkit dan melawan keadaan, namun Antan tau itu. Antan tidak akan memberikan kesempatan sedikitpun untuk Awang balas dendam. Dengan posisi ia sekarang, Antan merengsek kembali ke arah Awang dan memberikan pukulan bertubi-tubi yang tak terarah kepada Awang, Awang semakin terdesak. Ia hanya bisa merunduk dan menangkis setiap pukulan-pukulan yang dilepaskan Antan kepadanya.
Usai rasa letih datang. Antan surut tiga langkah dari Awang, rasa jengkel dan marah masih bercokol di hati anak muda ini. Dengan nafas tersengal-sengal ia menjauh dan keluar dari ruangan tempat pertempuran mereka. Di luar Antan mencoba menetralisirkan amarahnya. Pikirannya saat itu amat kacau, beberapa pertanyaan melintas-lintas di benak. “Mengapa semua ini terjadi? Kenapa?” dan sebuah keputusan bulat didapatnya.
“Aku harus pergi”.
Antan kembali masuk dan mendekati Awang, kali ini tak tampak lagi wajah amarah dan jengkel dari raut mukanya. Ia lihat Awang terduduk di pojok ruangan dengan menunduk sambil memegang kepalanya dengan kedua belah tangan.
“Kasih kunci!” sambil ia menyodorkan tangan. Hanya kata singkat itu yang keluar dari mulut Antan. Tanpa berkata-kata Awang memberikan kunci yang dimaksud oleh Antan, itupun tanpa menoleh kepada Antan. Permusuhan seolah-olah telah tercipta di antara mereka berdua. Setelah mendapatkan kunci, Antan segera beranjak dan meninggalkan Awang di ruangan.
Malam semakit gelap, belum lagi banyak awan yang bergelantungan di langit seolah berebut tempat dengan sang bulan dan juga bintang. Cuaca terasa panas karena sepertinya hujan akan turun, Antan terus melaju dengan motor suzuki Smashnya. Sampai di tempat yang seperti kosan motor itu berhenti, Antan mematikan motor. Ia buka pintu dengan kunci di tangan, setelah pintu terbuka, sejenak ia hanya bisa memandangi seisi kamar, di sana ada barang-barang milik ia dan awang. Buku-buku banyak berserakan, di dinding terpampang foto Awang. Di kamar inilah mereka tinggal. Mereka makan, tidur, belajar dan bercanda bersama-sama. Awang adalah teman Antan, bahkan Antan sudah menganggap awang sebagai sehabat. Ialah seharusnya menjaga Awang, ialah yang harus menjadi pembela dan tak akan membiarkan siapapun yang berani menyakiti Awang. Tetapi kenapa harus dengan tangan ini, tangan sahabatmu sendiri. Tangan yang seharusnya menarik Awang dari keterpurukan, tangan yang seharusnya mengangkat Awang menjadi orang besar kelak dan tangan yang memeluk erat Awang saat dingin datang mencekam. Antan tak pernah menyangka kejadian akan seperti ini, tak pernah terbayangkan sedikitpun. Kini ia harus pergi, tapi mau kemana? Ini sudah malam dan siapa yang akan mau menampung ia sekarang. Tapi untuk tetap tinggal sepertinya ia tak pantas lagi, mau kemana muka akan diletakkan saat nanti ia bertemu dengan Awang. Ia sudah malu untuk menjadi teman Awang, apalagi sahabat baginya. “aku harus pergi”.
Kakinya terasa berat melangkah masuk. Setelah mengemas semua barang-barangnya, Antan memacu kembali sepeda motornya ke tempat dimana Awang berada. Tak membutuhkan waktu yang lama, Antan telah sampai ke tempat tujuan, di sana Awang telah berada di luar. Ia duduk sendiri di bangku dekat taman, entah apa yang dipikirkannya, sendiri berkawankan kegelapan. Antan mengambil nafas sesaat, dengan sedikit keraguan ia langkahkan kaki mendekati Awang. Ia akan menyerahkankan kunci kamar mereka kepada awang sekaligus untuk berpamitan dan pergi. Ia sodorkan kunci di bangku tempat dimana Awang duduk. Perlahan pun ia ikut duduk. Entah harus memulai kata darimana bagi Antan bicara, tetapi ia harus tetap meminta maaf kepada Awang sekaligus pamit akan pergi. Tapi Antan tak atau harus memulainya darimana, lidahnya terasa kelu dan sulit untuk digerakkan. Sesaat kedua mereka sama-sama diam. Tak ada suara di antara mereka, hanya suara guntur yang saling menyahut di celah-celah pekatnya awan dan suara jangkrik di sekitar taman.
“kau mau kemana?” Awang membuka pembicaraan.
Antan tak langsung menjawab, ia berfikir dulu, memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab.
“kau mau kemana??” sekali lagi pertanyaan yang sama keluar dari mulut Awang.
Tanpak Antan mengambil nafas sesaat.
Aku mau pergi…!”
Pergi…? Kamu mau pergi kemana Tan malam-malam begini?”
Suara guntur mengalahkan pekikan jangkrik.
“Belum tau, tapi yang jelas aku harus pergi.”
“Siapa pulak yang mengharuskan kau pergi Tan??”
Kilat menyambar-nyambar seolah ingin memotret seisi alam di dekat mereka.
“Wang..!!! aku sudah tak pantas lagi di dekatmu apalagi teman atau sahabat bagi mu. Aku minta maaf Wang. Aku…”
Belum sempat Antan melanjutkan ucapannya Awang memotong.
“Kau tak perlu minta maaf Tan, semua ini lumrah untuk kita alami. Wajarlah jika kita bertengkar setelah selama ini kita bersahabat, kita ambil saja hikmahnya dan semoga kita makin dewasa dengan ini, aku juga minta maaf Tan seharusnya aku tak larut ikut memancing amarahmu tadi. Sekarang kau bawa kembali pulang barang-barang mu itu dan…”
Kata itu terputus, kali ini Antan yang memotong pembicaraan Awang.
“Aku harus pergi Wang, aku sudah malu pada diri ku sendiri. Aku sudah tak ada tempat di sisimu Wang.”
“Siapa bilang…!?”
“Tan…, engkau tau, kau adalah orang pertama kali yang aku kenal ketika aku di sini. Dan selama itu engkaulah jadi kawanku. Tak ada yang lain Tan, hari-hari kita lalui bersama. Pahit dan manis pun itu kita tetap bersama. Ada uang sama-sama kita berbagi, tak ada uang sama-sama kita lapar. Kau masih ingatkan Tan? Jadi aku mohon kau janganlah pergi.” Suara awang terdengar parau.
Di dalam kegelapan malam bertaburkan kilatan cahaya petir, butir-butir kristal bening mengalir dan menganak sungai di pipi Awang. Hanya isak yang memberi tahu Antan bahwa sahabatnya sekarang sedang meneteskan air matanya. “Ah, betapa jahatnya aku ini. Aku telah banyak menyakiti hati sahabatku ini. Ia tak membalas sakitnya pada ku, malah sekarang ia meminta aku untuk tetap berada selalu di sampingnya. Ah, begitu mulianya hati sahabat ku ini.” Tak seharusnya hati semulia itu disakiti. Tapi kenapa? Kenapa….”
Tak cukup lama pergolakan hadir dalam benak Antan, suara Awang membuyarkannya.
“Sekarang aku minta kau bawa kembali barang-barang mu pulang…!”
Langit sudah kehilangan cahaya, angin begitu kencang hilir mudik menerpa semua yang ada di hadapannya. Petir silih berganti, suara guntur sahut menyahut. Tak ada lagi nyanyian jangkrik. Hujan datang begitu deras seketika. Tanpaknya langit sudah tak tahan memendung dan sekarang pasrah mencurahkan seluruh isinya.
Bulir-bulir kristal kecil juga sudah tak tertahankan oleh Antan, sebentar lagi juga akan menganak sungai di pipinya. Sepuluh jarinya sangat kuat menggenggam telapak tangan, gemetar. Pedih dan sedih juga senang dan bahagia, semua rasa yang buncah di hatinya seolah tak bisa ditahan lagi oleh tubuhnya. Air mata itu pun terjun deras. Saat itu juga ingin rasanya ia memeluk sahabatnya, ia ingin mendekap erat tubuh Awang sampai ia letih dan tertidur. Tapi rasa malu mengurungkan semua itu.
Antan masih terisak-isak.
Nyanyian hujan sudah mereda, langit yang kehilangan cahaya telah bersih dan terang. Tak lama bintang mulai menampakkan pesona kerlab kerlib cahanya. Begitu indah rasanya malam itu, tak ada lagi setitik pun mendung tanpak menggantung. Jika dihirup, bau basah bumi begitu nyaman terasa di pikiran. Semua itu menghantarkan Awang dan Antan pulang ke kos mereka yang lama.
¤¤¤
